Di sebuah rumah sederhana di Kabupaten Paser, wilayah paling selatan Provinsi Kalimantan Timur, Deyan Syahirah Khairunnisa tumbuh dalam naungan petuah kedua orang tuanya. Dari beribu nasihat penuh makna, terdapat satu kalimat yang terpatri kuat dalam batin: “Sekolah setinggi-tingginya, karena itulah jalan untuk mengubah nasib.” Pesan itu pun menjadi kompas yang menuntun arah langkah Deyan sehingga ia berhasil memasuki dunia kerja, berkarya dan bermanfaat dengan apa yang ia punya.
Namun, jauh sebelum mencapai dunia kerja, perjalanan berliku harus Deyan tempuh terlebih dahulu. Sejak kecil, ia sering kali berpindah tempat mengikuti penugasan orang tuanya yang berprofesi sebagai guru. Deyan menjalani pendidikan formal di beberapa lokasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ia memulainya di SDN Inpres Sondosia Bima, berlanjut ke MTS Darul Ulum Dompu, dan menamatkan pendidikan menengah di MAN 1 Bima. Dari berbagai perjalanan, Deyan pun belajar tentang dua hal penting: adaptasi dan ketekunan.
Menurut Deyan, setiap lingkungan baru—termasuk sekolah—memberinya pelajaran tentang keberagaman, sekaligus keteguhan hati untuk menyesuaikan diri. “Dari kecil saya terbiasa beradaptasi, saya belajar menyesuaikan diri dengan cepat di lingkungan baru. Orang tua saya selalu bilang bahwa sekolah itu bukan untuk mencari nilai semata, tetapi membangun karakter,” ungkapnya dengan nada hangat.
Bagi Deyan, kebiasaan berpindah tempat tinggal dan lingkungan sosial juga menumbuhkan rasa ingin tahu yang besar. Inilah salah satu sebab dirinya menyukai pelajaran fisika, sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang bagaimana alam bekerja. Minat itu telah membawanya ke Universitas Mataram (UNRAM), jurusan Pendidikan Fisika, bidang yang menuntut logika tajam sekaligus ketekunan tinggi.
Ketika menempuh studi di perguruan tinggi, dalam segala keterbatasannya, Deyan mendengar kabar tentang beasiswa yang disediakan oleh PT Sumbawa Timur Mining (STM). Kala itu, hanya 10 mahasiswa terbaik yang dapat menjadi penerima manfaat program. Dengan penuh keteguhan hati, Deyan pun memutuskan untuk masuk ke dalam kancah persaingan. “Waktu itu saya tahu beasiswa ini sangat ketat. Tetapi saya berpikir, kalau saya tidak mencoba, saya tidak akan tahu sejauh mana kemampuan saya,” kenangnya.
Proses seleksi tidaklah mudah. Terdapat serangkaian tes, termasuk sesi wawancara daring yang mengharuskan peserta mempresentasikan inovasi. Saat itu, Deyan memperkenalkan alat pengukur percepatan gravitasi berbasis Arduino—proyek sederhana tetapi bermakna. Ia merancangnya secara mandiri dan proyek ini telah berhasil dipublikasikan dalam jurnal ilmiah nasional. Deyan pun sukses melewati tes ini meski mengalami masalah koneksi internet yang sempat membuatnya gelisah.
Atas keyakinan dan kemampuan Deyan, serta berkat dukungan dari keluarganya, ia berhasil menjadi salah satu peserta terpilih program Beasiswa Prestasi STM gelombang pertama. Pencapaian ini menjadi fondasi penting bagi Deyan dalam menata jalan menuju dunia kerja profesional.
Saya bukan dari keluarga berada, jadi beasiswa itu bukan sekadar bantuan finansial, itu kepercayaan dan kesempatan untuk mengubah masa depan.
Selama mengikuti program beasiswa, Deyan tidak hanya menerima benefit berupa biaya perkuliahan, tetapi juga berbagai jenis pelatihan dan perluasan jejaring. Ia benar-benar memanfaatkan program ini untuk mengasah kemampuan teknis dan nonteknis. Program Beasiswa Prestasi STM—yang berlangsung sejak 2021 dan kini telah menyediakan 109 kuota beasiswa bagi putra-putri Dompu—menjadi penguat langkah bagi Deyan dalam mewujudkan satu per satu harapan hidupnya.

Dari Dunia Kampus ke Dunia Kerja
Setelah lulus pada Desember 2022, Deyan mulai mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Ia percaya bahwa bekal pengetahuan dan keterampilan yang ia himpun akan bermanfaat dalam menjalani fase transisi ini. Tak butuh waktu terlalu lama, Deyan pun berhasil bergabung bersama PT Global Arrow—perusahaan mitra STM dalam bidang pengamanan di Proyek Hu’u, proyek eksplorasi tembaga di Kabupaten Dompu. Ia mengemban profesi sebagai tim administrasi.
Dalam profesinya, Deyan terpacu untuk belajar lebih banyak hal-hal baru. Ia merasa tertantang untuk mengaplikasikan kemampuan analisis dan perhitungannya untuk membantu tim berkembang lebih baik. “Tugas saya banyak berhubungan dengan data, timesheet, gaji karyawan, keuangan, dan vendor. Namun di balik pekerjaan administratif itu, saya juga belajar bagaimana menjaga komunikasi antar-divisi dan memastikan semua berjalan sesuai sistem,” jelasnya.
Deyan menjadi sosok karyawan yang mudah dikenali karena sikap kolaboratif dan kesediaan untuk mempelajari berbagai hal. Atas semangatnya itu, ia pun pernah terpilih sebagai model program Beasiswa Prestasi STM untuk menebar inspirasi. Wajahnya terpampang di berbagai titik strategis di desa-desa sekitar area Proyek Hu’u. “Rasanya haru ketika melihat foto saya di situ. Bukan karena bangga pada diri sendiri, tetapi karena teman-teman dan warga di sekitar bilang, mereka ikut merasa bangga,” katanya dengan mata berbinar.
Meski sudah bekerja, Deyan tidak lantas berpuas diri dan terus berupaya meningkatkan kapasitas kemampuannya. Targetnya saat ini adalah mengoptimalkan kecakapan berbahasa Inggris dan berkomunikasi formal. “Terkadang saya gugup kalau harus bicara di depan orang banyak. Namun saya belajar untuk lebih percaya diri, karena kalau tidak dicoba, tidak akan pernah bisa,” ujarnya. Ia pun berharap suatu saat dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister, mendalami bidang manajemen ataupun pengembangan sumber daya manusia.

Nilai Hidup: Rendah Hati dan Kerja Keras
Jika harus merangkum prinsip hidupnya dalam dua kata, Deyan memilih rendah hati dan kerja keras. Dua hal itu, katanya, selalu menjadi panduan dalam setiap langkah, menjadi pengingat bagi dirinya dalam keadaan senang maupun susah.
Saya percaya, dengan rendah hati kita bisa menempatkan diri di mana pun, dan dengan kerja keras kita bisa mencapai apa pun.
Ia tidak hanya berbicara untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk generasi muda di kampung halamannya. Lewat kisahnya sebagai penerima Beasiswa Prestasi STM, Deyan ingin menegaskan bahwa asal daerah bukan penghalang untuk bermimpi besar. “Saya ingin teman-teman muda di daerah tahu bahwa dunia itu luas. Jangan berhenti di zona nyaman. Pergi dan lihat dunia luar, belajar hal baru, dan terus berkarya,” pesannya.
Deyan Syahirah mungkin bukan sosok yang gemerlap di panggung besar, tetapi kisahnya memiliki cahaya tersendiri yang memberikan inspirasi. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, melewati tantangan dengan keteguhan, dan membuktikan bahwa pendidikan mampu mengangkat harkat siapa pun yang mau berusaha. “Kalau gagal, jangan patah semangat. Gagal itu bukan akhir, tetapi proses menuju pencapaian yang lebih baik,” tandasnya.
---
Simak kisah inspiratif lainnya dari para penerima Beasiswa Prestasi STM di sini.