Dari Lima Puluh Kota hingga Jenewa: Perjalanan Vovia Witni Wujudkan Masyarakat Berdaya

26 / 08 / 2025 Kisah

Dari Lima Puluh Kota hingga Jenewa: Perjalanan Vovia Witni Wujudkan Masyarakat Berdaya

“Aku mengangkat suaraku, bukan untuk berteriak, tetapi agar mereka yang tidak memiliki suara bisa didengar” — Malala Yousafzai, aktivis hak asasi manusia asal Pakistan.

Lahir di sebuah desa kecil tak membatasi Vovia Witni untuk merangkai mimpi besar. Sejak sekolah dasar, perempuan asal Desa Jopang Manganti, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatra Barat ini ingin tumbuh menjadi penggerak pemberdayaan sosial. Asa itu terinspirasi dari buku-buku dan surat kabar yang ia baca sejak dini, serta kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Dari berbagai filosofi kehidupan, Witni memilih kebermanfaatan untuk sesama sebagai jalan pengabdiannya.

Witni, yang memiliki panggilan kesayangan Sambogo oleh ayahnya, dibesarkan dalam keluarga sederhana yang paham betul arti penting pendidikan. Ayahnya selalu memastikan agar anak-anaknya akrab dengan literasi, sebagai bekal untuk menempuh liku-liku perjalanan hidup. Di sekolah, Witni selalu berhasil masuk dalam jajaran siswa terbaik. Saat memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), ia pun diterima di kelas unggulan dengan beasiswa penuh.

Witni pernah berkeinginan untuk menempuh pendidikan tinggi di Pulau Jawa, tetapi keterbatasan ekonomi membuatnya memilih berkuliah di Provinsi Aceh. Kegemarannya terhadap pendidikan dan bidang sosial pun sempat membuatnya berpikir untuk menjadi seorang dosen. Namun, takdir berkata lain. Rencana hidupnya berubah ketika tsunami besar melanda Aceh pada 2004. Bencana itu menjadi titik balik yang mempertemukannya dengan dunia sosial dan kemanusiaan.

Usai tsunami menerjang, Witni mengikuti panggilan hatinya untuk bergabung bersama lembaga kemanusiaan internasional yang berfokus pada pemulihan pascabencana. Ia ditugaskan di Nias sebagai tim sanitasi publik. Ia berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui revitalisasi fasilitas dasar yang erat kaitannya dengan kesehatan. Ia menikmati aktivitas sosial ini dan merasa apa yang ia lakukan bukanlah sebatas pekerjaan formal, melainkan bakti kemanusiaan.

Semangat pemberdayaan sosial membawa Witni pada perjalanan karier selanjutnya. Ia bergabung dengan perusahaan migas di Sulawesi Barat, dipercaya merancang program pengembangan masyarakat. Salah satu yang paling berkesan baginya adalah ketika ia mendirikan perpustakaan masyarakat di desa terpencil. Program itu menjadi jendela bagi anak-anak desa untuk mengenal dunia melalui buku. Beberapa di antara mereka kini menjadi guru, dosen, hingga pengusaha.

Witni juga sempat bergabung dengan organisasi nirlaba yang fokus mendukung kebutuhan anak-anak, terutama di daerah terpencil. Ia banyak belajar hal-hal baru dan mengimplementasikan pengetahuannya untuk masyarakat yang lebih baik. Barulah pada tahun 2024, Witni menjadi bagian dari tim Community Development PT Sumbawa Timur Mining (STM). Ia bergabung di perusahaan yang memiliki kesamaan nilai dengan dirinya: Dukung Orang Lain dan Didukung.

whatsapp-image-2025-08-26-at-103027-5

Bersama Membangun Kesetaraan

Dalam kesehariannya di STM, Witni melihat dan merasakan bahwa kesetaraan antara perempuan dan laki-laki telah berjalan dengan baik. Ia bersyukur berada di lingkungan kerja yang memberi ruang setara bagi siapa pun tanpa memandang gender. “Saya mengapresiasi karena di STM tidak ada perbedaan perlakuan antara perempuan dan laki-laki. Pak Ulya selaku atasan saya juga berpikiran terbuka dan tidak membeda-bedakan hanya karena saya perempuan,” ungkapnya.

Sebagai perempuan yang turut menentukan arah program pengembangan masyarakat di STM, Witni ingin memberikan kontribusi yang lebih bermakna. Ia ingin memastikan bahwa program-program yang dijalankan memiliki muatan kesetaraan gender yang kuat, memberikan ruang bagi perempuan untuk bertumbuh dan berdaya. Ia meyakini bahwa perempuan yang berdaya dapat menjadi motor penggerak pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang.

“Saya ingin program-program pengembangan masyarakat di Hu’u, Dompu, punya muatan kesetaraan gender. Kita mulai pelan-pelan, dari edukasi hingga pelatihan, supaya perempuan di sini punya ruang untuk berkembang dan berkontribusi. Itu harapan saya, semoga bisa terealisasi satu per satu,” ujarnya. Witni menambahkan, ia merasa senang dengan dukungan perusahaan sejauh ini terhadap program-program yang ia dan tim rencanakan.

Program pemberdayaan masyarakat STM yang banyak melibatkan perempuan bahkan berhasil mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Beberapa yang terbaru di antaranya yaitu Gold Award Indonesia Sustainable Development Goals Award (ISDA) 2024 untuk program Education Quality Improvement Program (EQUIP), Silver Award ISDA 2024 untuk program pengembangan UMKM, serta Silver Award Indonesian CSR Awards (ICA) 2024 untuk program pertanian organik.

whatsapp-image-2025-08-26-at-103027-3

Bersuara di Kantor PBB Jenewa

Pengalaman Witni di bidang pemberdayaan sosial, baik yang ia dapatkan dari aktivitas bersama perusahaan, lembaga nirlaba, hingga kemitraan dengan lembaga riset dan universitas, membawanya terbang ke Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kota Jenewa yang terletak di Swiss, Eropa Tengah. Ia berkesempatan berbagi perspektif dalam forum internasional UNTech Global Dialogue ke-8: Intergovernmental Group of Experts (IGE) on E-commerce and the Digital Economy, pada 12-14 Mei 2024.

Agenda utama pertemuan tersebut adalah menyusun naskah dan rekomendasi kebijakan global yang akan diadvokasikan kepada negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan besar dalam hal transformasi digital dan ekonomi berbasis data. Tujuannya adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi digital tidak hanya dinikmati oleh negara maju, tetapi juga memberikan manfaat dan kesempatan yang setara bagi negara berkembang dan negara tertinggal.

Witni hadir sebagai salah satu panelis yang membawa pandangan dari Indonesia, khususnya terkait aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam rantai pasok mineral kritis terutama tembaga, yang menjadi salah satu komponen penting dalam ekosistem digital global. Kehadiran Witni dengan penelitian yang dikembangkannya selama bertahun-tahun memberikan pandangan penting dalam kegiatan ini, mengingat Indonesia adalah salah satu pemain inti dalam komoditas mineral kritis di pasar global.

Dalam sesi diskusi, Witni membagikan perspektif berdasarkan pengalaman lapangan dan hasil riset yang telah ia lakukan. Ia menekankan pentingnya pengelolaan mineral kritis di negara berkembang seperti Indonesia yang harus terus dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan dan tanggung jawab sosial. Hal ini krusial agar pertumbuhan ekonomi digital global tidak hanya bergantung pada pemenuhan kebutuhan sumber daya, tetapi juga memberikan nilai tambah dan manfaat yang berkelanjutan bagi negara penyedia.

Forum ini dihadiri oleh perwakilan berbagai negara, organisasi internasional, akademisi, dan praktisi industri dari berbagai belahan dunia. Semua pihak saling berbagi pandangan dan pengalaman untuk kemudian dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan global yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Bagi Witni, berdiri dan berbicara di panggung PBB adalah momen yang tak terlupakan. Ia mengenang suasana ruang konferensi yang selama ini hanya dilihatnya di layar televisi, kini menjadi tempat di mana dirinya berdiri membawa suara dari Indonesia.

"Momen itu membuat saya merasa kecil sekaligus bangga. Dunia ini begitu luas dan masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari negara lain. Tapi sekaligus saya sadar, Indonesia punya banyak hal untuk disuarakan. Saya bangga bisa menjadi bagian kecil dari itu,” tutur Witni. Ia pun bersyukur bahwa orang-orang di sekitarnya, termasuk timnya di STM, senantiasa memberikan dukungan terhadap upaya-upaya yang ia lakukan.

whatsapp-image-2025-08-26-at-103027-2

Jangan Batasi Diri, Karena Perempuan Bisa

Bagi Witni, perjalanan karier dan pencapaiannya hingga hari ini berakar pada dua nilai yang selalu ia pegang: tanggung jawab dan integritas. Setiap tugas yang datang kepadanya diselesaikan dengan sungguh-sungguh, tanpa setengah hati. Baginya, rasa tanggung jawab bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga soal menjaga kehormatan diri sendiri. “Kalau saya tidak maksimal, saya malu dengan diri saya sendiri. Jadi apa pun itu, saya kerjakan dengan sepenuh hati, sebisa saya. Kalau masih bisa diusahakan, saya akan usahakan,” ujarnya.

Keberanian Witni untuk terus melangkah juga tak lepas dari pola asuh orang tuanya. Meski tumbuh dalam keluarga sederhana dengan keterbatasan ekonomi, orang tuanya selalu menanamkan pentingnya pendidikan dan pantang membatasi diri hanya karena ia perempuan. Prinsip itu yang membentuknya menjadi pribadi yang tak pernah ragu untuk mencoba. “Takut itu pasti ada. Takut gagal, takut salah. Tapi saya tidak pernah membatasi diri. Karena kalau kita mau berusaha semaksimal mungkin, insyaallah bisa,” ujarnya.

Witni membuktikan bahwa perempuan dapat berkarya dengan baik di mana pun, termasuk di industri pertambangan yang saat ini pekerjanya didominasi oleh laki-laki. Menurut Witni, satu-satunya perbedaan antara laki-laki dan perempuan hanyalah secara biologis. Selebihnya, kapasitas dan kemampuan bisa diasah oleh siapa saja yang mau belajar dan berusaha. “Kalau soal kerja dan kemampuan, semua bisa dipelajari. Kalau laki-laki bisa, perempuan juga bisa. Bahkan, sering kali, perempuan bisa lebih baik,” tandasnya.

 

Share
Sumbawa Timur Mining
Sumbawa Timur Mining